belajar dari yang terdahulu

Rabu, 30 November 2011

Sastra Perbandingan

SASTRA PERBANDINGAN, SEJARAH, DAN PERKEMBANGANNYA DI INDONESIA


       I.            HAKIKAT
Sebelum menjelaskan lebih jauh mengenai hakikat sastra perbandingan, terlebih dahulu ada dua istilah yang perlu dijelaskan, yakni sastra bandingan dan sastra perbandingan. Dua hal ini mempunyai implikasi yang kurang lebih sama (Endraswara, 2011:128).
      Sastra bandingan adalah sebuah studi teks across cultural. Studi ini merupakan upaya interdisipliner, yakni lebih banyak memperhatikan hubungan sastra menurut aspek waktu dan tempat. Dari aspek waktu, sastra bandingan dapat membandingkan dua atau lebih periode yang berbeda. Sedangkan konteks tempat, akan mengikat sastra bandingan menurut wilayah geografis sastra (Endraswara, 2011:128).
      Sastra perbandingan adalah wilayah keilmuan sastra yang mempelajari keterkaitan antar sastra dan perbandingan sastra dengan bidang lain. Jalin-menjalin antar karya sastra sangat dimungkinkan, karena setiap pengarang menjadi bagian dari penulis lain (Endraswara, 2011:128-129).
      Menurut kamus istilah sastra, sastra bandingan diartikan sebagai telaah dan analisis terhadap kesamaan dan pertalian karya sastra berbagai bahasa dan bangsa. Telaah bandingan sastra ini khususnya dalam sastra Indonesia relatif baru (Zaidan, Abdul Rozak, Anita K. Rustapa, dan Hani’ah, 2007: 181).
      Sastra bandingan merupakan kegiatan membandingkan sastra sebuah negara dengan sastra negara lain atau membandingkan sastra dengan bidang lain sebagai keseluruhan ungkapan kehidupan (Endraswara, 2011:10).

    II.            SEJARAH
Berdasarkan sejarahnya, sastra bandingan mempunyai dua aliran, yaitu aliran Prancis dan aliran Amerika. Aliran prancis disebut juga aliran lama karena memang sastra bandingan lahir di negara Prancis dan banyak tokoh-tokoh Prancis yang memplopori kelahirannya tersebut. Sedangkan aliran Amerika disebut sebagai aliran baru karena aliran Amerika meneruskan dan mengembangkan aliran Prancis.
Kedua aliran tersebut memiliki pandangan yang berbeda, walaupun tidak saling bertentangan. Persamaan kedua aliran tersebut yakni memiliki beberapa tujuan yaitu: (1) untuk mencari pengaruh karya sastra satu dengan karya sastra lain di berbagai negara; (2) untuk menentukan mana karya sastra yang orisinil dan mana yang bukan dalam lingkup perjalanan sastra; (3) untuk menghilangkan kesan bahwa karya sastra nasional yang satu lebih hebat daripada karya sastra nasional lainnya.
Sedangkan perbedaan wawasan kedua aliran tersebut akan dipaparkan singkat di bawah ini[*].

ALIRAN PRANCIS
ALIRAN AMERIKA
Pelopor pertama lahirnya sastra bandingan
Mengembangkan pemahaman teori sastra bandingan dari aliran sebelumnya (aliran Prancis)
Membandingkan setidaknya dua karya sastra dari negara-negara yang berbeda
Selain membandingkan dua karya sastra, aliran Amerika juga beranggapan sastra bandingan dapat pula membandingan sastra dengan bidang ilmu dan seni tertentu
Dalam konsep aliran Perancis hanya membolehkan pengkajian karya sastra dengan jenis yang sama. Maksudnya misalnya puisi dengan puisi, cerpen dengan cerpen, naskah drama dengan naskah drama.
dalam aliran ini pengkajian perbandingan karya sastra tidak hanya sebatas dengan karya sastra saja, tetapi perbandingan dapat dilakukan dengan disiplin seni lain, seperti puisi dengan lagu, cerpen dengan lukisan, naskah drama dengan seni instalasi, dsb
Sastra dianggap sebagai bagian hidup, sebab unsur-unsur kehidupan dalam karya sastra dapat dimanfaatkan oleh ilmu lain, negara lain, atau keseluruhan dunia dapat terangkum dalam satu kebulatan
Sastra tetap bisa menjadi dirinya sendiri sebagai sebuah karya sastra yang kemudian dapat dibandingkan dengan ilmu lain, seperti sastra dengan sejarah, sastra dengan sosiologi, sastra dengan politik, sastra dengan ekonomi, sastra dengan agama,dsb. Bandingan ini dapat memperluas peran sastra bagi segmen kehidupan lain.
Dalam hal bandingan, aliran Prancis lebih cenderung kepada hal-hal yang dapat dibuktikan dengan hal-hal nyata, misalnya dokumen pribadi pengarang, dan menolak kritik sastra sebagai unsur utama dari penelitian sastra bandingan, serta meragukan kebiasaan membandingkan dua karya sastra yang hanya memperlihatkan analogi dan perbedaan saja.


            Para pelopor sastra bandingan di Prancis antara lain Fernand Baldensperger Jean-Maria Carre, Paul van Tieghem, dan Marius-Francois Guyard. Buku-buku        yang telah mereka tulis antara lain sebagai berikut (Endraswara, 2011: 25-26):
1.      La Litterature Comparee (Paris, 1932-1951) karya Paul van Tieghem. Buku ini berisi uraian mengenai sejarah, teori, masalah, serta hasil kesusastraan umum dan bandingan. Bahan-bahan yang dipakai terbatas pada penerbitan berbahasa Prancis.
2.      La Litterature Comparee (cetakan pertama, Paris, 1951; edisi kelima, 1969) oleh Marius-Francois Guyard. Buku ini membawa kita pada perkenalan sastra bandingan yang sealiran dengan Paul van Tieghem.
3.      “La Litterature Comparee Depuis un Demi Siele” dalam Annales du Centre Universitaire Meditenarean 3 (1951), 69-77 karya Jean-Marie Carre. Karangan ini penting sebagai sebuah aliran, karena secara nyata mewakili aliran Prancis dalam sastra bandingan aliran Guyard. Di sini Jean-Marei Carre melihat sastra bandingan sebagai sesuatu yang berbeda dengan “bandingan kesusastraan” atau “sastra umum”. Dalam karangan ini juga terdapat studi mengenai aspek pengaruh, sejarah perkembangan kesusastraan, dan sejarah interpretasi kesusastraan dari satu negara ke negara lain; selain ditekankan pula pentingnya kesusastraan itu sendiri.

Sastra bandingan awalnya memang berkembang di Prancis, Inggris, Jerman dan negara-negara Eropa lainnya. Selanjutnya, sastra bandingan juga melebarkan sayap ke Amerika dan Asia pada umumnya. Sejak tahun 1970-an sastra bandingan mulai berkembang dengan mengkaji karya-karya Andre Malraug, William Somerset Maughnam, dan Franz Kafka. Pada awalnya, sastra bandingan sekedar membandingkan karya sastra dengan karya sastra untuk mencari kefavoritan dan keoriginalitasan karya. (Endraswara, 2011:130)

 III.            PERKEMBANGANNYA DI INDONESIA
Perkembangan sastra bandingan di Indonesia tidak lepas dari induknya yaitu Prancis dan Amerika. Tetapi tampaknya Amerika Serikat justru lebih mendominasi hadirnya sastra bandingan di Indonesia (Endraswara, 2011:36).
Sastra bandingan di Indonesia secara garis besar dapat dibagi dalam empat kelompok, yaitu (Endraswara, 2011:43):
1)      Sastra bandingan dalam kaitan studi filologi yang dikenal sebagai kritik teks.
2)      Sastra bandingan dalam hubungannya dengan sastra lisan. Jenis penelitian ini lebih ke arah motif dan atau tema dalam dongeng, cerita rakyat, legenda, dan sejenisnya, serta merunut wilayah penyebaran teks.
3)      Sastra bandingan modern, yakni sastra bandingan tulis, baik yang ditulis dalam bahasa Indonesia yang masih bernama bahasa Melayu maupun yang ditulis dalam bahasa Indonesia.
4)      Sastra bandingan interdisipliner artinya menyandingkan karya sastra dengan bidang lain di luar ilmu sastra. Bandingan yang keempat ini sering melahirkan simbiosis mutualisme antara sastra dan bidang lain.
Para sarjana, baik asing maupun Indonesia, telah banyak melakukan studi filologi atas naskah-naskah lama Nusantara (Indonesia). Umumnya perbandingan naskah-naskah yang berupa karya sastra yang berbeda, lalu dicari pertautannya, dan kemudian menemukan naskah induk. Setelah induk naskah ditemukan barulah dilakukan perbaikan serta penganalisisan untuk menentukan latar belakang budaya yang tercermin dalam naskah.
Teori sastra bandingan di Indonesia belum mendapat perhatian sepenuhnya dari para pakar. Masih sangat sedikit buku dan artikel yang menjelaskan dan menguraikan teori sastra bandingan.

DAFTAR PUSTAKA
Endraswara, Suwardi. 2011. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: CAPS
                                  . 2011. Metodologi Penelitian Sastra Bandingan. Jakarta: Bukupop
Zaidan, Abdul Rozak, Anita K. Rustapa, dan Hani’ah. 2007. Kamus Istilah Sastra. Jakarta: Balai Pustaka


[*] ringkasan dalam buku metodologi penelitian sastra bandingan. Suwardi Endraswara, hal 25-28

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar